Ini Kampung Arab Tertua di Gresik

gresik24jam.net - Ini Kampung Arab Tertua di Gresik

Gresik24jam - Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik terletak di tengah perkampungan penduduk.

Kawasan wisata Makam Malik Ibrahim termasuk kategori kampung dalam kota yang identik dengan budaya Arab/Islam yang dikenal berkat adanya makam Malik Ibrahim. Salah satunya adalah Kampung Pulopancikan.

Gang-gang dengan deretan rumah berasitektur kuno hingga kolonial menjadi pemandangan unik kampung itu. Kampung Pulopancikan memiliki daya tarik wisata yang kuat bagi Gresik. Daerah itu merupakan salah satu Kampung Arab tertua di Gresik

Hingga saat ini etnis Arab di Gresik tersebar di dua wilayah. Yang pertama di Kampung Gapuro, Sukolilo, dan satu lagi di Desa Pulopancikan. Letaknya sekitar 500 meter dari makam Sunan Maulana Malik Ibrahim.

Berdasarkan fakta sejarah, Gresik dikenal sebagai kota pesisir yang ramai dikunjungi pedagang asing. Persinggungan dengan banyak pendatang itu kemudian menjadikan Gresik sebagai salah satu kota pantai utara Pulau Jawa yang terbentuk dan berkembang menjadi suatu kota yang multietnis.

Menurut peneliti Denys Lombard, kebanyakan pedagang yang menetap di pesisir berasal dari wilayah Hadramaut. Babad Gresik menyebutkan kedatangan para ulama Islam atas perintah Sultan Sadad dari Negeri Gedah untuk menyiarkan Agama Islam sambil berdagang. Peristiwa itu terjadi pada 1293 Saka atau 1371 Masehi.

Menurut penuturan pengurus organisasi Maulana Malik Ibrahim, Kampung Pulopancikan merupakan pemukiman Arab yang berjuang bersama Syekh Maulana Malik Ibrahim untuk menyebarkan Islam.

Pulopancikan berarti tempat untuk berpijak. Itu sesuai dengan gambaran awal kedatangan para pedagang Arab yang mencari tempat bermukim.

Hingga saat ini, banyak fam atau garis keturunan Arab yang mendiami Kampung Pulopancikan. Organisasi kekerabatan di Kampung Pulopancikan diwujudkan dalam sebuah yayasan bernama Muhajirin dengan kesekretariatan Muhajirin Center yang terletak di Jl Kyai Zubair.

Banyak organisai lain yang dibentuk untuk mempertahankan dan menyebarkan nilai-nilai Islam seperti Al-Ikhsandan Yayasan Maulana Malik Ibrahim.

Masyarakat Pulopancikan masih mempertahankan tradisi menenun. Mereka menggunakan alat tenun bukan mesin untuk memproduksi sarung. Sebagian peninggalan arsitektur di daerah itu juga masih mencirikan bangunan yang berarsitektur kolonial. Beberapa masjid dan musala yang didirikan pada abad ke-18 masih berfungsi.

Pemandangan fisik lain dapat dijumpai berupa tata lingkungan kawasan yang sangat tertutup. Masing-masing pemukiman dibatasi dinding yang tinggi dan masif dengan jalan lingkungan yang buntu dan berakhir pada satu lingkungan rumah tinggal di tengah kawasan.

Lampu-lampu jalan lawas menambah kesan klasik kampung. Tatanan spasial pada kawasan Malik Ibrahim merupakan kelangkaan yang tidak dapat dijumpai pada kawasan bersejarah di kota-kota lain.

Namun demikian, eksotika seni arsitektur dan budaya Kampung Pulopancikan semakin tertutup oleh modernitas masyarakat Gresik. Banyak bangunan tua yang tidak terawat, dan dirubuhkan kemudian didirikan bangunan baru.

Pertumbuhan penduduk dan munculnya banyak pemukiman baru seakan mengubah tatanan ruang yang dulunya rapi. Kesan visual bangunan-bangunan pada saat ini terlihat kurang menarik. Hal itu dapat menghilangkan identitas Kampung Arab Pulopancikan sebagai kampung kota lama Gresik.

Sumber : surya.co.id

Jangan lupa share di akun sosmedmu yah..
Terima kasih telah berkunjung ke Gresik 24 Jam.
Facebook Page: Gresik 24 Jam
Instagram: @gresik24jam

Subscribe to receive free email updates: